Tentang Kami

MIKA lahir berkat pergumulan panjang dari sekelompok mahasiswa Kristen IISIP Jakarta yang tergabung dalam Persekutuan Mahasiswa Kristen Live and Life in Christ (PMK LLC). Sekelompok mahasiswa itu, ialah Samuel Bukti “Choki” Sihotang, Bukti Hasudungan Sihotang, Seba Sitompul, Weshley Hutagalung, Erlangga Satyawardana, August Tobing, Niko Hutajalu, William Poltak Manurung, Naek Mangatas Tambunan, Barata Krisna Panjaitan, dan almarhum Suherman Pandopotan.

Edisi perdana MIKA seharusnya terbit pada awal 1992. Namun karena kesibukan Budi Bombong yang saat itu bertugas me-layout naskah urung merampungkan tugasnya. Saat itu hanya Budi yang mempunyai komputer dan memahami seluk beluk tata letak.

Awal tahun 1993 semua pendiri sepakat untuk menerbitkan MIKA, namun keraguan pun datang karena harus berhadapan dengan pengurus dan mengingat para pendiri bukanlah mahasiswa yang menyandang status pelayan. Setelah melewati diskusi yang alot dan menegangkan, akhirnya terdapat sebuah kesepakatan bahwa apapun risikonya, buletin Mika harus ada. Dengan keputusan ini, maka Mika pun hadir di permukaan! Mimpi pun diretas menguasai Jakarta Selatan, Jakarta, Pulau Jawa, kemudian Indonesia. Siapa menguasai komunikasi, menguasai dunia!

Walau digarap secara tergesa-gesa dan amat sederhana dengan biaya yang ditanggung sendiri, namun Mika mendapat sambutan yang positif dari para pembacanya. Melihat hal ini pejuang-pejuang yang memiliki semangat berapi-api tersebut menerbitkan edisi selanjutnya yang diteruskan hingga kini.

Weshley Hutagalung saat itu dipercaya untuk menjadi Pimpinan Redaksi (Pemred), yang kemudian digantikan oleh Seba Sitompul. Edisi kedua mulai tertata rapi, bentuk tulisan lebih mendalam selain ada Laporan Utama (Laput), ada juga Laporan Khusus (liputan berita khas), Opini dan Ungkapan (Opung), Renungan Mahasiswa (Remas), Informasi Kaset dan Rohani (Info Bukaroh), Kiriman Bebas (Kibas), Info Ulang Tahun dan Kegiatan LLC, serta Saran dan Input Kami (Simu).

Seba sebagai komando, Mika semakin ‘menggila’. Bukan cuma mahasiswa kristen, MIKA pun mulai dilirik keyakinan lain. Yuo! Mika kini tak melulu mengupas soal rohani dari kacamata kekristenan, melainkan juga berani mengupas persoalan yang tengah hot dengan tetap mengedepankan injil sebagai filter.

Waktu terus berputar, 1994 datang begitu cepat. Seba pamit mundur dan semua pun memiliki beban kuliah yang tak kalah berat. MIKA diambang vakum.

Hingga muncul mahasiswa baru, salah satunya Julai. Choki Sihotang kemudian ditunjuk sebagai Pimpinan Redaksi yang selanjutnya dengan membawahi Julai dan teman – temannya yang memiliki jiwa – jiwa petarung, pekerja keras dan juga kaya akan ide.

Perkembangan pun terus berjalan, cover MIKA mulai memakai hasil jepretan sendiri. Dengan kata lain, cover tidak lagi mengandalkan menu gambar yang ada dikomputer.

Arti kata Mika dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti batu cermin atau abrak. Jadi setiap orang yang ada di Mika adalah batu-batu yang akan diasah hingga kemudian menjadi cermin. Dengan moto Enak Dibaca Bawa Berkat, Mika terbit satu bulan sekali. Selain logo, di huruf pertama MIKA (M), terlihat garis berbentuk salib yang dirancang oleh Erlangga.

Seiring berjalannya waktu edisi demi edisi terus bermunculan, kepemimpinan pun terus berganti hingga saat ini Reyn Gloria menjadi Pimpinan Redaksi. Edisi 72 menjadi edisi terakhir dalam bentuk cetakyang dipegang oleh Reyn. Perkembangan teknologi yang semakin pesat membentuk pemikiran baru dari para anggotanya. Mika kini hadir dalam bentuk Online, selain untuk memudahkan para pembaca juga untuk membuat para reporter lebih siap dalam menghadapi deadline.

Sudah 72 edisi yang diluncurkan Mika dalam bentuk cetak dan ada ditengah kita. Kini Mika dengan moto Enak Dibaca Bawa Berkat akan terus menyajikan informasi dengan format yang berbeda. Dari gang sempit, Waspada, kita genggam Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *